Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Desember 2016

LAPORAN PEMBUATAN MEDIUM MIKROORGANISME

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mikrobiologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari kehidupan mahluk yangbersifat mikroskopik yang di sebut mikroorganisme atau jasad renik.dalam teknologi pangan,mikrobiologi merupakan ilmu yang sangat penting misalnya dalam hubungannya dengan kerusakan atau kebusukan makanan,sehingga dapat di ketahui tindakan atau pengawetan yang paling tepat.
oleh karena itu,untuk melakukan pengamatan di bidang mikrobiologi,pangan,di perlukan alat kelengkapan penunjang praktikum atau pengamatan.selain itu teknik dalam melakukan pengamatan juga,sangat di perlukan teknik praktikum.karena pada dasarnya paraktikuym mikrobiologi pangan dengan sejumlah mikroorganisme yang berperan dalam proses pananganan atau pengolahan pangan.
1.2 TUJUAN
untuk mengetahui pembuatan media pertumbuhan mikroorganisme baik medium na dan pda 
1.3 Manfaat
Manfaat pembuatan media NA dan PDA di lakukan untuk mempelajari macam-macam medium,cara pembuatan dari beberapa medium serta fungsinya masing-masing.
BAB II
TIJAUAN PUSTAKA
Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media berupa molekul-molekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel. Dengan media pertumbuhan dapat dilakukan isolat mikroorganisme menjadi kultur murni dan juga memanipulasi komposisi media pertumbuhannya (Indra, 2008).
        Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dan dikembangkan pada suatu substrat yang disebut medium. Medium yang digunakan untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan mikroorganisme tersebut harus sesuai susunanya dengan kebutuhan jenis-jenis mikroorganisme yang bersangkutan. Beberapa mikroorganisme dapat hidup baik pada medium yang sangat sederhana yang hanya mengandung garam anargonik di tambah sumber karbon organik seperti gula. Sedangkan mikroorganime lainnya memerlukan suatu medium yang sangat kompleks yaitu berupa medium ditambahkan darah atau bahan-bahan kompleks lainnya (Volk, dan Wheeler,1993).
Akan tetapi yang terpenting medium harus mengandung nutrien yang merupakan substansi dengan berat molekul rendah dan mudah larut dalam air. Nutrien ini adalah degradasi dari nutrien dengan molekul yang kompleks. Nutrien dalam medium harus memenuhi kebutuhan dasar makhluk hidup, yang meliputi air, karbon, energi, mineral dan faktor tumbuh (Label, 2008).
Untuk menelaah bakteri di dalam laboratorium , pertama- tama kita harus dapat menumbuhkan bakteri tersebut di dalam suatu biakan murni. Untuk melakukannya haruslah dimengerti jenis- jenis nutrient yang disyartakan oleh bakteri dan juga macam lingkungan fisik yang mana dapat menyebabkan kondisi yang optimum bagi pertumbuhannya tersbut (Pelczar, 1986).
            Meskipun telah dijabarkan berbagai macam jenis dari medium, perlu diiingat bahwa tidak ada satupun perangkat kondisi yang memuaskan bagi kultivasi untuk semua bakteri di laboratorium. Bakteri amat beragam, baik dari persyaratan nutrisi maupun fisiknya. Beberapa berapa bakteri memiliki persyaratan nutrient yang sederhana, sedang yang lain memiliki persyaratan yang rumit. Karena alsan ini kondisi harus disesuaikan sedemikian rupa sehingga bisa menguntungkan bagi kelompok bakteri yang sedang ditelaah (Pelczar, 1986).
        Medium yang padanya bakteri ditumbuhkan akan beranak dalam susunannya sesuai dengan kebutuhan jenis-jenis yang bersangkutan. Beberapa bakteri dapat hidup baik pada medium yang sangat sederhana yang hanya mengandung garam anorganik ditambah sumber karbon organik, seperti gula. Bakteri lain memerlukan suatu medium yang sangat kompleks yang kepadanya ditambahkan darah atau bahan-bahan kompleks lain – hampir semua media yang biasa dipakai sehari-hari dapat di beli secara komersil sebagai tepung kering. Jadi, untuk membuat suatu medium, yang harus dilakukan hanyalah menimbang jumlah tepung yang diperlukan, menambahkan air, dan mensterilkan sebelum dipakai (Volk and Wheler, 1988).
              Di samping itu, gelatin dapat juga dipakai sebagai bahan pengental dan memang dahulu orang memakainya tetapi sejak lama orang lebih suka menggunakan agar-agar. Agar-agar baru mencair pada suhu 950 C, sedangkan gelatin sudah mencair pada suhu 250 C. Dengan demikian medium yang mengandung gelatin perlu disimpan dalam tempat yang lebih dingin dari pada suhu kamar, jika dikehendaki medium tersebut tetap dalam keadaan padat. (Volk and Wheeler,1988).  
BAB III
METODE PRAKTIKUM
 3.1 waktu dan tempat
Praktikum ini di laksanakan pada hari sabtu tanggal 27 november 2010,pukul 09.00 bertempat di laboratorium teknologi pertanian fakultas ilmu-ilmu pertanian universitas negeri gorontalo.
3.2 alat dan bahan
A. alat
Ø  Erlenmeyer 250 ml
Ø  Spatula
Ø  Kompor listrik
Ø  Timbangan analitik
Ø  Sendok makan
Ø  Gelas ukur 100 ml
B. bahan
Ø  Aquades
Ø  NA (natrium agar)
Ø  PDA
Ø  Aluvo
3.3 Prosedur Kerja
Ø  Menyediakan semua alat dan bahan yang di gunakan dalam praktikum pembuatan media
Ø  NA (natrium agar) di timbang seberat 7 gr dan PDA seberat 9,7 gr dengan menggunakan timbangan analitik
Ø  Larutan NA dan PDA di tuangkan ke dalam masing-masing erlenmeyer
Ø  Gelas ukur di tuangkan aquades sebanyak 250 ml.
Ø  Dan di tuangkan kembali ke dalam Erlenmeyer sebanyak 250 ml.
Ø  Erlenmeyer yang sudah tertuang NA dan aquades tadi di aduk dengan menggunakan spatula
Ø  Kemudian di panaskan dengan menggunakan kompor listrik sampai mendidih
Ø  Setelah mendidh di dinginkan
Ø  Erlenmeyer di bungkus denfgan menggunakan aluvo dan langsung di masukkan ke dalam kulkas.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 
4.1 hasil dan pembahasan
              Dalam pembuatan media yang di hasilkan adalah larutan NA apabila di campur dengan aquades. Setelah mengalami pemanasan, maka warna yang di hasilkan adalah warna kuning kemerahan seperti minyak goreng. Sedangkan PDA apabila di campur dengan aquades,dan di panaskan,tidak mengalami perubahan warna sama sekali.
              Medium pertumbuhan mikroba adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran nutrient yang di perlukan mikroba untuk pertumbuhannya.untuk memberikan kondisi hidup yang cocok bagi pertumbuhan bakteri, maka media harus mengandung semua zat hara yang mudah di gunakan oleh mikroba.tegangan permukaan dan ph yang sesuai dengan kebutuhan mikroba yang di tumbuhkan serta tidak mengandung zat-zat yang menghambat pertumbuhan dari pada mikroba dan haru berada dalam yang steril sebelum di gunakan.
              Medium NA berdasarka susunan kimianya merupakan medium non sintetik/semi alamia. Berdasarkan konsistensinya merupakan medium padat.medium ini di gunakan untuk pertumbuhan bakteri. Medium PDA menurut konsistennya termasuk medium padat. Sedangkan berdasarkan kimianya termasuk non sintetik/semi alamiah.medium PDA di gunakan untuk menumbuhkan jamur(fungi).Komposisi yang di gunakan untuk membuat media NA seberat 11,5 gr adalah bacterial pepton 5 gr/L,meal extract 3 gr/L,agar 15 gr/L dan aquades 500 ml. sedangkan untuk media PDA 19,5 gr adalah extract 4 gr/L,glukosa 70 gr/L,agar 15 gr/l dan aquades 500 ml.
              Komposisi NA yang terdiri dari meal extract berfungsi sebagai sebagai sumber karbohidrat,mengandung senyawa hydrogen organic yang di butuhkan mikroba.pepton merupakan sumber protein dan sebagai penghasil nitrogen,agar berfungsi untuk pemadat medium. dan aquades berfungsi sebagai pelarut.dan komposisi PDA yang terdiri dari glukosa berfungsi sebagai sumber karbon.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Ø  berbagai alat yang di amati memiliki kegunaan dan sifat-sifat serta bentuk yang berbedasatu sama lainnya
Ø  sebelum di gunakan alat-alat dan bahan harus di sterilkan terlebih dahulu.hal ini guna untuk mencegah adanya kontaminasi dari mikroorganisme lain.
5.2 Saran
Adapun yang menjadi saran kami adalah di harapkan agar praktikum yang akan dating praktikan harus mengetahui bagaimana pembuatan media NA dan PDA.
DAFTAR PUSTAKA
Dwijoseputro, 1990. Dasar-Dasar Mikorobiologi. Penerbit Djambatan. Jakarta.
Indra., 2008, http//ekmon-saurus/bab-2-Media- pertumbuhan/.htm . diakses     pada  
              tanggal 8 maret 2009 makasar
Label, Caray.,2008, http//Caray label makalah –dan – skripsi pembuatan-media- agar

                        dan-sterilisasi/htm .diakses pada tanggal 08 maret 2009, Makassar.
Pelczar, Michael, 1986, Dasar- Dasar Mikrobiologi, Universitas Indonesia, Jakarta.
Volk, dan Wheeler., 1993, Dasar- Dasar Mikrobiologi, Erlangga, Jakarta.

TEHKNIK ISOLASI MIKROORGANISME

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Di dalam bidang ilmu mikrobiologi, untuk dapat menelaah bakteri khususnya dalam skala laboratorium, maka terlebih dahulu kita harus dapat menumbuhkan mereka dalam suatu biakan yang mana di dalamnya hanya terdapat baktri yang kita butuhkan tersebut tanpa adanya kontaminasi dari mikroba lain. Biakan yang semacam ini biasanya dikenal dengan istilah biakan murni. Untuk melakukan hal ini, haruslah di mengerti jenis- jenis nutrien yang disyaratkan bakteri dan juga macam ligkungan fisik yang menyediakan kondisi optimum bagi pertumbuhan bakteri tersebut.

            Selain teknik pertumbuhan bakteri atau teknik isolasi di atas, dikenal juga adanya teknik isolasi mikroba yaitu inokulasi yang merupakan suatu teknik pemindahan suatu biakan tertentu dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tujuan untuk mendapatkan suatu biakan yang murni tanpa adanya kontaminasi dari mikroba yang lain yang tidak di inginkan,berdasarkan hal tersebut di atas,maka di lakukanlah praktikum ini untuk mengetahui teknik dari isolasi dan inokulasi bakteri..
Dalam teknik biakan murni tidak saja diperlukan bagaimana memperoleh suatu biakan yang murni, tetapi juga bagaimana memelihara serta mencegah pencemaran dari luar. Media untuk membiakkan bakteri haruslah steril sebelum digunakan. Pencemaran terutama berasal dari udara yang mengandung banyak mikroorganisme. Pemindahan biakan mikroba yang dibiakkan harus sangat hati-hati dan mematuhi prosedur laboratorium agar tidak terjadi kontaminasi. Oleh karena itu, diperlukan teknik-teknik dalam pembiakan mikroorganisme yang disebut dengan teknik isolasi dan inokulasi.
1.2.Tujuan Isolasi
banyak hal yang menjadi tujuan dari teknik isolasi adalah untuk menumbuhkan mikroorganisme pada cawan petri yang steril.
1.3. Manfaat isolasi
Manfaat di adakannya praktikum ini,yaitu untuk mengetahui tumbuhnya mikroba dengan menggunakan metode tuang.di mana antara sampel dan media di tuang secara merata di dalam cawan yang kemudian di simpan ke dalam oven yang bersuhu 27 derajat Celcius.
1.4. Tujuan Inokulasi
Tujuannya yaitu untuk memperkecil atau mengurangi jumlah mikroba yang tersuspensi dalam cairan.
1.5 Manfaat Inokulasi
Manfaat dari di lakukannya praktikum pengenceran ini,yaitu untuk mengenalkan cara memindah tempatkan tempat pertumbuhan mikroba maupun memperkecil jumlah mikroba yang tumbuh pada suatu tempat ke tempat yang lainnya. 
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Identifikasi biakan mikroorganisme seringkali memerlukan pemindahan ke biakan segar tanpa terjadi pencemaran. Pemindahan mikroorganisme ini dilakukan dengan teknik aseptik untuk mempertahankan kemurnian biakan selama pemindahan berulangkali. Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dalam biakan cair atau padat. Kekeruhan dalam kaldu menunjukkan terjadinya pertumbuhan mikroorganisme. Bila mikroorganisme menumpuk pada dasar tabung maka akan membentuk sedimen, sedangkan pada permukaan kaldu pertumbuhannya terlihat sebagai pelikel (Lay, 1998).
Pertumbuhan mikroorganisme dalam kaldu seringkali menggambarkan aktivitas metabolismenya. Mikroba aerob obligat berkembang biak pada lapisan permukaan karena pada bagian ini kandungan oksigen tinggi. Selain dalam media cair, mikroorganisme juga memperlihatkan pertumbuhan dengan ciri tertentu dalam biakan padat seperti agar miring atau lempengan agar. Agar miring lazimnya digunakan untuk menyimpan biakan murni sedangkan agar lempengan lazimnya digunakan untuk memurnikan mikroorganisme (Lay, 1998).
Penanaman bakteri atau biasa disebut juga inokulasi adalah pekerjaan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Untuk melakukan penanaman bakteri (inokulasi) terlebih dahulu diusakan agar semua alat yang ada dalam hubungannya dengan medium agar tetap steril, hal ini agar menghindari terjadinya kontaminasi (Dwijoseputro, 1998).
Ruang tempat penanaman bakteri harus bersih dan keadannya harus steril agar tidak terjadi kesalahan dalam pengamatan atau percobaaan .dalam labotarium pembuataan serum vaksin dan sebagainya. Inokulasi dapat dilakukan dalam sebuah kotak kaca (encast) udara yang lewat dalam kotak tersebut di lewatkan saringan melalui suatu jalan agar terkena sinar matahari/ultraviolet(Pelczar, 1986)
Ujung kawat inokulasi sebaliknya dari platina atau nikel .ujungnya boleh lurus juga boleh berupa kolongan yang diametrnya 1-3mm. Dalam melakukuan penanaman bakteri kawat ini terlebih dahulu dipijarkan sedangkan sisanya tungkai cukup dilewatkan nyala api saja setelah dingin kembali kawat itu disentuhkan lagi dalam nyala (Pelczar, 1986).
Teknik ini lebih menguntungkan jika ditinjau dari sudut ekonomi dan waktu, tetapi memerlukan ketrampilan-ketrampilan yang diperoleh dengan latihan. Penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah. Inokulum digoreskan di permukaan media agar nutrien dalam cawaan petri dengan jarum pindah (lup inokulasi). Di antara garis-garis goresan akan terdapat sel-sel yang cukup terpisah sehingga dapat tumbuh menjadi koloni (Winarni, 1997).
Cara penggarisan dilakukan pada medium pembiakan padat bentuk lempeng. Bila dilakukan dengan baik teknik inilah yang paling praktis. Dalam pengerjaannya terkadang berbeda pada masing-masing laboratorium tapi tujuannya sama yaiitu untuk membuat goresan sebanyak mungkin pada lempeng medium pembiakan (Kus Irianto, 2006)
Setetes inokolum diletakan dalam sebuah medium agar nutrien dalam cawan petridish dan dengan menggunakan batang kaca yang bengkok dan steril. Inokulasi itu disebarkan dalam medium batang yang sama dapat digunakan dapat menginokulasikan pinggan kedua untuk dapat menjamin penyebaran bakteri yang merata dengan baik. Pada beberapa pinggan akan muncul koloni koloni yang terpisah-pisah (Winarni, 1997).
Isolasi menggunakan media cair dengan cara pengenceran. Dasar melakukan pengenceran adalah penurunan jumlah mikroorganisme sehingga pada suatu saat hanya ditemukan satu sel di dalam tabung (Winarni, 1997).
Metode tusuk yaitu dengan dengan cara meneteskan atau menusukan ujung jarum ose yang didalamnya terdapat inokolum, kemudian dimasukkan ke dalam media (Winarni, 1997).
.                  Inokulasi jamur menggunakan jarum ose bentuk batang. Hifa yang berbentuk seperti benang mudah diambil dengan jarum ose batang dan mudah sekali tumbuh di dalam suatu media. Inokulasi bakteri menggunakan jarum ose bentuk bulat. Pada ujung jarum ose yang berbentuk bulat, bakteri akan dapat terambil dalam jumlah yang relatif banyak (Rohimat, 2002).
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 waktu dan tempat
Waktu pelaksanaan praktikum ini,di laksanakan pada hari sabtu tanggal 4 desember 2010,pukul 09.00 wita. Bertempat di laboratorium teknologi pertanian universitas negeri gorontalo.
3.2 alat dan bahan
Alat                                                                
Ø  Tabung reaksi                         
Ø  Cawan petri
Ø  Rak tabung
Ø  Lampu Bunsen
Ø  Lumpang
Ø  Sendok makan
Ø  Erlenmeyer yang berisi media
Ø  Pipet tetes
Ø  Spatula
Ø  Timbangan analitik
Bahan
Ø  Sampel (ikan,daging ayam,roti,roti busuk)
Ø  Kertas quarto
Ø  Kapas
Ø  Label
3.3 Prosedur Kerja
·         Langkah awal yaitu membersikan atau mencuci bersih alat dengan sabun sampai steril  sebelum di gunakan  untuk praktikum
·         Mencuci sampel dengan air hingga bersih
·         Menghaluskan sampel dengan menggunakan lumpang
·         Sampel yang sudah halus,di timbang seberat 2 gram dengan menggunakan timbangan analitik.
·         Sampel di tuang ke dalam tabung reaksi yang berisi aquades yang tidak berlabel(tempat sampel)
·         Larutan sampel di tuang kembali pada tiga tabung reaksi  yang sudah di beri label masing-masing satu pipet untuk10-1,10-2,10-3 serta di dekatkan pada lampu bunsen
·         Ke tiga tabung reaksi yang sudah berisi larutan,itu di tuangkan lagi ke cawan petri berdasarkan label yang ada, dan di dekatkan pada lampu Bunsen
·         Mencairkan media NA dan PDA yang sudah membeku untuk proses pengenceran selanjutnya
·         Setelah cair,media kita tuangkan ke tiga cawa petri masin-masing dengan ketebalan 1 ml,dan di biarkan campuran larutan tadi menyatu menjadi agar.
·         Proses selanjutnya yaitu membungkus ke tiga cawa petri dengan menggunakan kertas quarto dan di beri label sesuai dengan nama kelompok masing-masing
·         Ke tiga cawan petri yang sudah di bungkus,di masukkan ke dalam oven dengan suhu 27 derajat celcius untuk proses pertumbuhan mikroorganisme.  
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 
4.1 Hasil dan Pembahasan
      Isolasi adalah cara memisahkan mikroorganisme tertentu dari lingkungan sehingga diperoleh biakan yang sifatnya murni yang dinamakan biakan murni, sedangkan inokulasi adalah proses memindahkan mikroorganisme dari medium yang lama ke medium yang baru.
Isolasi perlu dilakukan karena semua metode mikrobiologis yang digunakan untuk menelaah dan mengidentifikasi mikroorganisme structural termasuk penelahan ciri-ciri cultural, morfologis, fisiologis, merupakan suatu populasi yang terdiri dari satu macam mikrobiologi saja.Metode yang dilakukan pada percobaan kali ini terdiri dari beberapa metode dalam mengisolasi bakteri. Metode tersebut adalah metode sebar, metode tuang dan metode tabur dan metode gores yang merupakan metode dengan menggunakan cawan petri.
Sedangkan untuk metode yang menggunakan tabung reaksi adalah metode tuang Untuk metode tuang  digunakan pada medium tegak dengan menggunakan pipet tetes. NA dan PDA adalah media yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri. PDA(potato dekstro agar)dan NA (Nutrien Agar) mempunyai komposisi zat yang hampir sama. Yang membedakan PDA dengan NA adalah adanya agar, pada NA digunakan agar sebagai pemadat. Kedua medium ini biasanya digunakan untuk membiakkan bakteri karena mengandung pepton sebagai sumber N2, dan kaldu yang mengandung garam-garam mineral
            Pada inokulasi bakteri dilakukan dengan menggunakan medium padat dengan metode agar tegak dan metode agar miring. Selain itu juga menggunakan medium padat dalam cawan Petri dengan menggunakan medium NA serta menggunakan medium cair yaitu PDA Pada metode agar tegak, inokulasi menggunakan medium NA yang telah dipadatkan dengan posisi tegak dalam tabung reaksi.. Pada metode tuangg inokulasi menggunakan medium NA yang telah dipadatkan dalam tabung reaksi dengan posisi miring.
.           Pada percobaan bakteri harus disuspensikan terlebih dahulu sebab bakteri sulit larut dalam air sehingga harus disuspensikan. Lagi pula sangat sulit untuk memipet bakteri jika dalam bentuk padat. Dalam setiap perlakuan metode isolasi dan inokulasi dilakukan secara aseptis. Cara aseptis dimaksudkan agar kontaminasi oleh mikroba lain yang tidak dikehendaki dapat dicegah semaksimal mungkin. Untuk memindahkan sel-sel mikroba dari satu medium ke medium lainnya digunakan pipet tetes yang steril dengan membalik cawan Petri.
Hal ini dimaksudkan agar uap air yang terjadi selama proses isolasi dan inokulasi tidak jatuh ke dalam medium yang dapat mengganggu petumbuhan mikroba.pada proses isolasi dan inokulasi dengan menggunakan metode tuang,larutan yang berada pada cawan petri itu di masukkan ke dalam oven dengan suhu 27 derajat celcius agar pertumbuhan mikroorganisme itu dapat tumbuh dengan baik dan sempurna.sehingga kita dapat mempelajari semua aktivitas mikroorganisme.
BAB V
PENUTUP 
5.1 Kesimpulan
Dalam praktikum ini,kita dapat simpulkan bahwa proses isolasi dan inokulasi dengan menggunakan metode tuang,kita harus berhati-hati dalam melakukan praktikum ini,agar alat yang kita gunakan tidak terkontaminasi dengan mikroba di sekitarnya.apabila hal ini terjadi maka akan menyebabkan mikroba yang kita tumbuhkan akan bertambah banyak sehingga kita tidak dapat lagi menghitung jumlah mikroba yang ada pada cawan, serta kita dapat mengetahui bagaimana proses pertumbuhan mikroorganisme dengan suhu 27 derajat celcius di dalam oven.
5.1 Saran
Adapun yang menjadi saran penulis yaitu untuk praktikum akan datang   di harapkan kepada paraktikan agar lebih memperhatikan bagaimana tata cara proses isolasi dan inokulasi serta menjaga alat tetap steril dalam hal ini tidak terkontaminasi dengan mikroba lain.
DAFTAR PUSTAKA
Baedah Madjid, I, Sp.MK. 2001. Kuliah Mikrobiologi I. Universitas
                                                Hasanudin makasar
Dirjen POM, (1979), Farmakope Indonesia, Edisi III, Depkes RI: Jakarta.
Dirjen POM, (1995), Farmakope Indonesia, Edisi IV, Depkes RI: Jakarta.
Minasari. 2001. Mikrobiologi Umum. USU-Press. Medan
Irianto Koes, Drs. 2006. Mikrobiologi Menguak Dunia Mikroorganisme. Yrama
                                Widya Bandung
Pratiwi, Sylvia. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Penerbit Erlangga. Jakarta
Rusli, S.Si, M.Si, Apt. 2010. Tuntunan Praktikum Mikrobiologi Farmasi Dasar.
                                        Universitas muslim Indonesia makasar

Selasa, 26 April 2016

HARUSKAH KITA BIARKAN BAHASA GORONTALO TENGGELAM BERSAMA DANAU LIMBOTO....???

Sejarah mengungkapkan, bahwa Bahasa Gorontalo merupakan salah satu bahasa daerah Suku Gorontalo, yang terbentuk sejak lama, menjadi media komunikasi antar sesama Gorontalo. Saya pernah membaca sebuah ungkapan bahwa, bahasa adalah identitas bangsa, mendengar ungkapan tersebut kadang saya mengernyitkan kening, berfikir keras atas kalimat itu kemudian menyematkannya pada penggunaan bahasa Gorontalo pada rakyat Gorontalo sendiri.
Walaupun saya sendiri bukanlah asli gorontalo tapi kadang saya merasaa risih sendiri, bahasa Gorontalo yang merupakan bahasa asli daerah ini, kini seakan mulai tenggelam bersama kondisi danaunya yang mulai menyempit, tidak sedikit anak bangsa yang notabanenya orang asli daerah ini malu menggunakan Bahasa Gorontal0, bahkan dalam percakapan antara remaja, seakan dirasa aneh jika ada anak remaja menggunakan bahasa Gorontalo, mirisnya dinggap orang pinggiran, orang desa, atau mungkin orang gunung.
Saya lebih baik tidak pandai berbahasa Inggris, dari pada saya tidak pandai bahasa daerah sendiri. Banyak kaum muda Gorontalo seakan malu menggunakan bahasa, meskipun menggunakan bahasanya, jika bukan pada kelompok atau keluarganya, mungkin karena ada orang luar daerah disekitar mereka, dan harus berbicara yang rahasi. Saya malu menjadi orang Gorontalo, ketika saya tak mampu berbahasa daerah Gorontalo, yang merupakan kekayaan Indonesia dalam hal bahasa. Saya beritahu kepada saudara-saudara sekalian, jika engkau pandai berbahasa Gorontalo, maka engkau akan memahami bagaimana budaya daerah ini, karena budaya tidak lepas dari bahasanya.
Sayangnya di Gorontalo, bahasa Gorontalo tidak diajarkan secara total di sekolah-sekolah, tidak dipelihara oleh masyarakatnya dalam pergaulan sehar-hari. Bahkan, ketika saya masih duduk di bangku SD pun bahasa Gorontalo seakan terpinggirkan, tidak sedikit guru-guru mengajarkan harus berbahasa Indonesia yang baik dan benar, bahkan tidak sedikit juga orang tua melarang anak jika menggunakan bahasa Gorontalo dengan orang lain.
Satu menjadi kekhawatiran saya, jika kelak bahasa ini tidak dipertahankan maka kelak bahasa Gorontalo akan tenggelam bersama Danau Limboto yang makin makin dangkal, hilang bersama kejernihan air danau, membeku bersama lumpur dan timbunan rerumputan enceng gondok. Haruskah kita biarkan?

DANAU LIMBOTO

Danau Limboto merupakan sebuah danau yang terletak di Kecamatan Limboto, Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Indonesia. Danau ini memiliki kedalaman antara 5 hingga 8 meter ini, para pengujung atau wisatawan dapat menikmati berbagai kegiatan, antara lain, memancing, lomba berperahu, atau berenang. Selain itu, mereka juga dapat menikmati ikan bakar segar yang disediakan oleh mayarakat nelayan setempat dengan harga yang relatif murah.Danau Limboto merupakan danau besar yang terletak di Kabupaten Gorontalo. Danau dengan luas sekitar 3.000 hektar ini merupakan muara dari lima sungai besar, yakni Sungai Bone Bolango, Sungai Alo, Sungai Daenaa, Sungai Bionga, dan Sungai Molalahu. Pada era 1950-an, Danau Limboto memiliki kedalaman hingga 27 m. Oleh sebab itu, ketika Presiden Soekarno datang mengunjungi Gorontalo dan sekitarnya dengan pesawat amphibi, Danau Limboto dijadikan landasan pesawat yang dikendarai oleh Bung Karno ini.
Namun, saat ini kedalaman Danau Limboto hanya sekitar 7—8 m saja. Kedalaman yang seperti ini menjadikan Danau Limboto tidak seperti danau biasanya yang berbentuk seperti kolam alami. Danau Limboto memiliki bentuk permukaan berlumpur. Meski demikian, di tengah-tengah danau ini, pengunjung dapat melihat berbagai flora air tawar yang tumbuh di permukaannya, seperti eceng gondok, gelagah, dan bunga teratai. Di danau ini, pengunjung dapat melakukan berbagai kegiatan, seperti memancing ataupun berperahu.
Danau Limboto dari tahun ke tahun luas dan tingkat kedalamannya terus berkurang. Luas Danau Limboto pada tahun 1999 berkisar antara 1.900-3.000 ha, dengan kedalaman 2-4 meter (Cabang Dinas Perikanan Kabupaten Gorontalo, 2000). Pada tahun 1932, luas perairan ini mencapai 7.000 ha
Danau Limboto saat ini kondisinya cukup kritis, kedalaman rata- rata hanya mencapai 2,5 meter, dan luas tersisa kurang lebih 3.000 hektare.
Pada 1932 kedalaman Danau Limboto masih mencapai 30 meter, sekarang terus menyusut, dan 1961 kedalamannya berkurang menjadi 10 meter dengan luas yang tersisa 4.250 hektare.
“Hingga kini dari 23 anak sungai yang menjadi pemasok air ke Danau Limboto dari arah utara, barat, dan selatan, hanya satu sungai yang mengalir sepanjang tahun, yaitu Sungai Biyonga dengan wilayah daerah aliran yang kecil sekira 68 kilometer persegi.
“Kerusakan Danau Limboto juga diperparah dengan adanya penebangan liar dan perambahan hutan di daerah hulu,”
Pemerintah pusat saat ini telah menyediakan dana sebesar Rp93 miliar untuk menyelamatkan Danau Limboto di Gorontalo.

Kamis, 01 November 2012

Proses Pasteurisasi

   

Nama : Mukholiq
Nim : 612309020
universitas negeri gorontalo



Proses pasteurisasi

BAB I
PENDAHULUAN

q Latar belakang
     Suhu tinggi diterapkan baik dalam pengawetan maupun dalam pengolahan pangan.Memasak,menggoreng,memanggng,dan lain-lain adalah cara-cara pengolahan yang menggunakan panas.Proses-proses tersebut membuat makanan menjadi lebih lunak, lebih enak, dan lebih awet. Pemberian suhu tinggi pada pengolahan dan pengawetan pangan didasarkan kepada kenyataan bahwa pemberian panas yang cukup dapat membunuh sebagian besar mikroba dan menginaktifkan enzim.
 
    Selain itu makanan menjadi lebih aman karena racun-racun tertentu rusak karena pemanasan, misalnya racun dari bakteri Clostridium botulinum. Pasteurisasi merupakan suatu proses pemanasan bahan pangan sampai suatu suhu tertentu untuk membunuh mikroba patogen atau penyebab penyakit seperti bakteri penyebab penyakit TBC,disentri,diare,dan  penyakit perutlainnya.
  Pada pemakaian suhu tinggi, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, yaitu 

1.Mikroba penyebab kebusukan dan yang dapat membahayakan kesehatan manusia harus dimatikan.
2.Panas yang digunakan sedikit menurunkan nilai gizi makanan.
3. Faktor-faktor organoleptik misalnya citarasa juga harus dipertahankan.
Dikenal beberapa tingkatan pemberian panas atau proses termal yang umum dilakukan yaitu:
üblansing,
ü pasteurisasi, 
üdan sterilisasi.
 
q Tujuan
v  Adapun tujuan penyusunan tugas ini adalah    sebagai berikut:
Menyelesaikan atau melengkapi tugas Mata Kuliah Prinsip tekhnologi pengolahan.
Dapat mengetahui tentang pengertian dan proses pateurisasi.
Dapat berbagi pengetahuan dengan sesama Mahasiswa tentang pasteurisasi
BAB II
PEMBAHASAN

q  Pengertian Pasteurisasi
  Proses pemanasan dengan pasteurisasi diberi nama dari nama ahli mikrobiologi Perancis, yaitu Louis Pasteur. Pada awalnya proses ini dikembangkan sebagai upaya untuk mencari metode pengawetan minuman anggur (wine). Pasteur menunjukkan bahwa proses pembusukan pada minuman anggur dapat dicegah jika anggur tersebut dipanaskan pada suhu 60oC selama beberapa waktu. Namun demikian, dalam perkembangannya, proses pasteurisasi lebih banyak diaplikasikan untuk proses pengolahan susu.
 
  Secara umum proses pasteurisasi adalah suatu proses pemanasan yang relatif cukup rendah (umumnya dilakukan pada suhu di bawah 100oC) dengan tujuan untuk mengurangi populasi mikroorganisme pembusuk sehingga bahan pangan yang dipasteurisasi tersebut akan mempunyai daya awet beberapa hari (seperti produk susu pasteurisasi) sampai beberapa bulan (seperti produk sari buah pasteurisasi).
 
    Walaupun proses ini hanya mampu membunuh sebagian populasi mikroorganisme, namun pasteurisasi ini sering diaplikasikan terutama jika:
Dikhawatirkan bahwa penggunaan panas yang lebih tinggi akan menyebabkan terjadinya kerusakan mutu (misalnya pada susu).
Tujuan utama proses pemanasan hanyalah untuk membunuh mikroorganisme patogen (penyebab penyakit, misalnya pada susu) atau inaktivasi enzim-enzim yang dapat merusak mutu (misalnya pada saribuah).
 
Diketahui bahwa mikroorganisme penyebab kebusukan yang utama adalah mikroorganisme yang sensitif terhadap panas (misalnya khamir/ragi pada sari buah)
  Akan digunakan cara atau metode pengawetan lainnya yang dikombinasikan dengan proses pasteurisasi, sehingga sisa mikroorganisme yang masih ada setelah proses pasteurisasi dapat dikendalikan dengan metode pengawetan tersebut (misalnya pasteurisasi dikombinasikan dengan pendinginan, pengemasan yang rapat tertutup, penambahan gula dan/atau asam, dan lain-lain).
 
  Secara umum tujuan utama pasteurisasi adalah untuk memusnahkan sel-sel vegetatif dari mikroba patogen, pembentuk toksin dan pembusuk. Beberapa mikroba yang dapat dimusnahkan dengan perlakuan pasteurisasi adalah bakteri penyebab penyakit, seperti Mycobacterium tuberculosis (penyebab penyakit TBC), Salmonella (penyebab kolera dan tifus) serta Shigella dysenteriae (penyebab disentri). Di samping itu, pasteurisasi juga dapat memusnahkan bakteri pembusuk yang tidak berspora, seperti Pseudomonas, Achromobater, Lactobacillus, Leuconostoc, Proteus, Micrococcus dan Aerobacter serta kapang dan khamir.
 
  Dengan demikian, dapat disimpulkan bawa proses pasteurisasi secara umum dapat mengawetkan produk pangan dengan adanya inaktivasi enzim dan pembunuhan mikroorganisme yang sensitif terhadap panas (terutama khamir, kapang dan beberapa bakteri yang tidak membentuk spora), tetapi hanya sedikit menyebabkan perubahan/penurunan mutu gizi dan organoleptik. Keampuhan proses pemanasan dan peningkatan daya awet yang dihasilkan dari proses pasteurisasi ini dipengaruhi oleh karakteristik bahan pangan, terutama nilai pH. Kondisi dan tujuan pasteurisasi dari beberapa produk pangan dapat berbeda-beda, tergantung dari pH produk.
 
v Metode pasteurisasi
Metode pasteurisasi yang umumnya di gunakan
pada sat ini
ada dua,yaitu:
HTST/High Temperature Short Time, yaitu pemanasan dengan suhu tinggi sekitar 75oC dalam waktu 15 detik, menggunakan alat ysng disebut Heat Plate Exchanger.
UHT/Ultra High Temperature, yaitu pemanasan dengan suhu tinggi 130oC selama hanya 0,5 detik saja, dan pemanasan dilakukan dengan tekanan tinggi. Dalam proses ini semua MIKROBA mati , sehingga susunya biasanya disebut susu steril.
 
v Proses pasteurisasi
 Proses pasteurisasi dapat dilakukan dengan beberapa cara,yaitu:
oKontinyu
o
oTidak kontinyu (batch)
ü pasteurisasi kontinyu dilakukan dengan menggunakan pelat pemindah panas (plate heat exchanger). Proses berlangsung tanpa terputus: bahan yang telah dipasteurisasi langsung dibawa ke tahap pendinginan dan langsung dikemas. Cara kontinyu menggunakan suhu yang lebih tinggi dengan waktu proses yang lebih singkat dibandingkan metode batch.
üPasteurisasi secara batch dilakukan dengan memanaskan bahan pangan pada suhu dan waktu pasteurisasi tertentu, selanjutnya dikemas dalam kemasan steril dengan teknik pengisian hot filling.
BAB III
PENUTUP

q Kesimpulan 
             Berdasarkan hasil yang di dapatkan dari bebelapa literatur, dapat di simpulkan bahwa:
 Proses pemanasan dengan pasteurisasi diberi nama dari nama ahli mikrobiologi Perancis, yaitu Louis Pasteur.
 Secara umum proses pasteurisasi adalah suatu proses pemanasan yang relatif cukup rendah (umumnya dilakukan pada suhu di bawah 100oC).
 
 Metode pasteurisasi yang umumnya di gunakan pada sat ini ada dua yaituHTST/High Temperature Short Time, dan UHT/Ultra High Temperature.
 Proses pasteurisasi dapat dilakukan   dengan beberapa cara, dengan cara tidak kontinyu (batch) dan kontinyu.
 
q Saran
Dari hasil penyusunan tugas ini belum di ketahui dengan jelas metode yang umumnya di gunakan pada proses pasteurisasi, oleh karenanya penyusun berharap dapat mempraktekan metode ini, sehingga setelah nantinya keluar di masyarakat kami dapat menerapkan proses ini.
TERIMA KASIH